PASSWORD RESET

Into The Heart of Java

Home » Solobritis » Rachel Georghea Sentani, Putrinya Kota Solo

Rachel Georghea Sentani, Putrinya Kota Solo

rachel georghea sentani

Ini seperti dreams come true, saya sudah memimpikan menjadi seorang ‘Puteri’ sejak kecil dan bisa mewujudkannya dengan berdiri di panggung Putri Indonesia

Cantik, smart, menarik dan good attitude, sebuah paket lengkap yang dimiliki gadis cantik satu ini. Rachel Georghea Sentani atau yang akrab disapa Rachel ini berhasil mengharumkan nama Solo menuju ke tingkat nasional. Gadis kelahiran Solo 21 Maret 1993 ini sejak kecil sudah memimpikan untuk menjadi seorang ‘Puteri Solo’ dan untuk mengawali mimpinya itu ia terus belajar dari waktu ke waktu hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mengikuti ajang pemilihan Putera Puteri Solo pada tahun 2010. Gadis yang saat itu masih duduk di bangku SMA tersebut meraih gelar Putri Solo dan berhasil menyisihkan pesaing lainnya. Prestasi yang ia dapat pada langkah pertama ini memberi support besar dalam membangun kepercayaan dirinya untuk kembali mengikuti ajang berkelas lainnya.

rachel georghea sentaniBakat dan kemampuan yang dimilikinya serta dukungan yang besar dari kedua orang tuanya, Rachel berhasil kembali dalam ajang pemilihan Mas Mbak Duta Wisata Jawa Tengah tahun 2010 dan Duta Wisata Indonesia tahun 2011 yang diselenggarakan di Palu sebagai juara ke 3. Saat sedang duduk di bangku kuliah semester III Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rachel kembali mengikuti pemilihan dan terpilih menjadi wakil Jawa Tengah dalam Pemilihan Putri Indonesia 2013 masuk pada babak pemilihan 10 besar Putri Indonesia. Meski belum berhasil mendapatkan gelar Putri Indonesia, namun puteri sulung dari pasangan Heru S Notonegoro dan Iriani S Notonegoro ini mampu mengharumkan nama Solo dengan mempersembahkan penghargaan sebagai Putri Terfavorit Kepulauan Jawa.

“Ini seperti dreams come true, saya sudah memimpikan menjadi seorang ‘Puteri’ sejak kecil dan bisa mewujudkannya dengan berdiri di panggung Putri Indonesia. Walaupun tidak pulang sebagai pemenang, banyak kesan yang saya dapatkan karena selalu bertemu orang baru dari berbagai, daerah dan latar belakang”, jelas Rachel ramah.

rachel georghea sentaniBanyak ilmu yang ia dapatkan, selama sepuluh hari menjalani masa karantina, Rachel dapat berkenalan dan banyak belajar dari finalis Putri Indonesia lainnya. Dari pengalamannya itu, Rachel kerap berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga Singapura sebagai Duta Jawa Tengah. Rachel dituntut untuk menggunakan kostum kebaya lengkap, kerena keterbatasan kemampuannya dalam berdandan akhirnya setiap pulang sekolah ia mengikuti kursus kecantikan bagaimana memakai konde, make up hingga berbusana anggun layaknya wanita Indonesia. Dari situlah rasa mencintai busana dan budaya Indonesia semakin kuat.

Postur tinggi dan wajah cantik yang dimilikinya pada kisaran tahun 2014, Rachel mengikuti Beauty Pageant dari situ ia kemudian sering membantu temannya menjadi model untuk portofolio beberapa rekan designer / MUA (make up artis) pada akhirnya keterusan hingga sekarang. Tidak hanya sebagai model foto, Rachel juga menikmati sebagai model catwalk, baginya kedua hal ini adalah kesibukan yang menyenangkan karena bisa bekerja bersama banyak orang.

rachel georghea sentaniDalam waktu dekat, Rachel akan melanjutkan studi Ke Belanda mengambil pendidikan S-2 di bidang International Commercial Law University of Groningen, Belanda sesuai dengan passion-nya. Pendidikan S-2 ini ia peroleh melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP Kementerian Keuangan RI lewat seleksi yang cukup ketat dan Rachel berangkat ke Belanda pada bulan Agustus nanti. Rachel mengaku, beasiswa ini menjadi salah satu caranya untuk belajar setinggi-tingginya tanpa harus membebani kedua orang tua dengan biaya yang berat dan memupuk dirinya agar mampu menjadi pribadi yang mandiri. Gadis cantik satu ini menambahkan baginya seorang wanita Indonesia harus bisa memancarkan aura dari dalam maupun luar, harus mampu menunjukkan potensi yang dimiliki yang nantinya bisa berguna bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, seorang wanita harus berwawasan global namun harus tetap mempertahankan akar budaya yang dimiliki bangsanya.

“Jangan menjadi pribadi yang apa adanya, sebaliknya kita harus belajar dan meng-eksplore lagi potensi yang ada dalam diri kita agar mampu berwawasan luas tidak seperti katak dalam tempurung”, tandasnya.

Teks : Kusuma Wardani // Foto : Yuda Wardana

Share This Article :

Tulis Komentar

Your email address will not be published.