PASSWORD RESET

Into The Heart of Java

Home » Tokoh » Alpha Fabela Priyatmono, Solo Eco Culture Creative City

Alpha Fabela Priyatmono, Solo Eco Culture Creative City

alpha fabela priyatmono

Alpha Fabela Priyatmono – Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL)

Batik merupakan salah satu identitas masyarakat Jawa. Kota Solo mempunyai dua kampung batik, selain Kampung Batik Kauman, ada pula Kampung Batik Laweyan. Berbicara tentang Kampung Batik Laweyan tidak terlepas dari sosok inspiratif di dalamnya. Dia adalah Alpha Fabela Priyatmono yang hingga saat ini terus melestarikan dan mengembangkan industri batik di Kampung Batik Laweyan. Usai krisis moneter yang melanda bangsa ini, semua industri terpuruk termasuk di dalamnya industri batik dalam negeri. Batik benar-benar berada di posisi titik terendah bahkan kurang dari 0, benar-benar ironis kondisinya saat itu. Solo yang identik dengan industri batik, baik itu industri besar maupun kecil bersama-sama bangkit dan berusaha mengangkat posisi batik kembali sebagai salah satu perekonomian kreatif di Solo.

alpha fabela priyatmonoDengan usaha keras dan doa, perlahan-lahan batik kembali ke posisinya semula, mulai dibentuklah berbagai cara kreatif untuk membangkitkan keberadaan batik kembali salah satunya dengan munculnya berbagai kampung batik yang mengangkat ekonomi kerakyatan di kampung tersebut. Yang memberi multiplayer efek ke segala aspek peremonomian. Laweyan yang terkenal sebagai berkumpulnya juragan-juragan, pengrajin-pengrajin batik menjadi salah satu yang tercatat di dalam sejarah bangsa sebagai kampung yang menelorkan industri batik. Keberadaan Kampung Batik Laweyan di bawah asuhan Alpha Fabela beserta seluruh UKM batik menjadikan Laweyan salah satu sentra penghasil batik terbaik di Solo. Sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL). Pria kelahiran Yogyakarta, 16 Februari 1960 ini berupaya untuk terus merekatkan hubungan antar pengusaha batik dan meningkatkan pariwisata industri batik di Kampung Batik Laweyan dengan berbagai inovasi.

Bagaimana awal mula di industri batik Laweyan?

alpha fabela priyatmonoMenurut sejarah, Laweyan dulu juga termasuk daerah penting, daerah yang maju dan sebagai eksportir utama batik di Indonesia. Di tahun 1948 Rumah Laweyan hancur terkena bom, sehingga usaha ekonomi dan penjualan harus gulung tikar. Pamor batik mulai meredup diiringi dengan kajian mengenai batik yang sangat minim itulah awal dari titik kehancuran. Keprihatinan semakin terlihat di tahun 2004 banyak masyarakat Laweyan yang tidak mengetahui sejarah kampung ini. Untungnya saat batik akan diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia, aset sejarah mengenai batik masih cukup bukti, meski sebenarnya sekitar 75-80% telah hilang.

Di Tahun 2004 saya dan beberapa masyarakat Laweyan menyadari kalau Kampung Laweyan kumuh dan tidak terurus. Saat itu juga batik di Kampung Laweyan mulai meredup bahkan bangkrut. Banyak bangunan yang ditinggal penghuninya dan menjadi ahli fungsi sehingga menjadi rusak. Saya sempat membaca sejarah di mana batik di Laweyan yang pernah berjaya dan tahun 2004 hanya tinggal 17 pengusaha batik yang bertahan. Kemudian kami bersama-sama mendirikan Kampung Batik Laweyan. Tepatnya pada tanggal 25 September 2004, Laweyan diresmikan menjadi Kampung Batik oleh Walikota Solo saat itu Slamet Suryanto. Di tahun 2016 ini ada sekitar 80 pengusaha batik di Kampung Batik Laweyan dengan rumah-rumah usaha yang masing-masing juga terbagi dalam proses pengerjaan batik.

Untuk Anda sendiri, kapan memulai menjadi pengrajin batik?

alpha fabela priyatmonoAwalnya saya hanya pemerhati batik. Sampai saat peresmian Kampung Batik Laweyan di tahun 2004 sekaligus saya diberi kepercayaan untuk menjadi koordinatornya. Mau tidak mau, siap tidak siap bagi saya ini adalah pekerjaan pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga.

Berkat dorongan teman-teman pemerhati Laweyan di akhir tahun 2005 saya mulai membuka usaha batik rumahan. Di samping itu banyak yang membujuk saya untuk mengurus artefak batik yang sebelumnya terbengkalai. Mulai menata barang-barang peninggalan dan membangkitkan kembali usaha batik adalah niat kami saat itu karena di tahun 1990an perusahaan batik sempat tutup. Kami menyadari ini adalah peninggalan yang patut dilestarikan sampai kapanpun.

Bagaimana perkembangan industri batik dari masa ke masa?

Seperti batik motif kontemporer sudah ada sejak tahun 1977, namun ketika mulai bangkrut di tahun 2000an motif tradisional tetap membumi sedangkan saat itu kontemporer mulai hilang. Pertama kali kami membuat batik dengan motif kontemporer adalah di tahun 2005 sekaligus di tahun yang sama kami mengikuti pameran di mall Solo Square.

Pages : 1 2

Tulis Komentar

Your email address will not be published.