PASSWORD RESET

Into The Heart of Java

Home » Tokoh » Never too Late to Learn

Never too Late to Learn

Robby Putranto

Executive Chef Saffron

 “Saya tidak bisa mengubah arah angin, namun saya bisa menyesuaikan pelayaran saya untuk selalu menggapai tujuan saya.” – Jimmy Dean

 

Siapa yang tahu jalan hidup kita akan seperti apa. Menjadi seorang chef (koki) tentu adalah bagian dari impiannya di masa lalu, namun beberapa jalan lain harus ia lalui terlebih dulu. Meskipun mengenyam pendidikan di Luar Negeri, pria kelahiran Solo, 3 Juni 1986 ini tetap kembali ke Tanah Air untuk berkontribusi di negara sendiri.

Menyelesaikan SMA di Singapura dan melanjutkan ke jenjang Universitas dengan mengambil jurusan Ekonomi di negara yang sama tepat di tahun 2005 hingga 2006. Tak lama di sana, merasa bukan dunianya Robby memutuskan berhenti dan memilih melanjutkan kuliah di Swiss dengan fokus pada Diploma Perhotelan. Seakan mempunyai panggilan dalam dirinya sendiri, inilah jalan yang terus ditekuninya. Perjalanan panjang dan jatuh bangun sempat dilewati pria yang mempunyai hobby Mix Martial Art (MMA) ini. Melalui perjalanan itu akhirnya ia dikenal sebagai seorang Chef. Ditemui di Saffron Resto, Jalan Ronggowarsito No.38, Kampung Baru, Pasar Kliwon  secara eksklusif Robby berbagi pengalaman dan cerita dibalik kariernya sekarang ini.

Mengapa memilih jalur karier saat ini? ada cerita di balik itu? 

Sebetulnya saya sempat mencoba beberapa jenis pekerjaan sebelum memutuskan untuk berkonsentrasi menjadi koki di dapur. Saat mulai fokus di perhotelan dengan menjadi mahasiswa saya pernah bekerja sebagai part time di sebuah resto di Geneva yakni salah satu kota besar di Swiss. Lalu di tahun yang sama yakni 2008 saya pindah ke United Kingdom (UK) untuk magang di bagian room service. Hingga saya mendapat tawaran pekerjaan sebagai marketing di 4 Seasons Hotel Jimbaran, Bali.

Akhirnya titik balik hidup saya terjadi saat saya bekerja di Mandarin Oriental Hotel, Macau selama 3 tahun, saya memutuskan untuk hijrah ke dapur dan ternyata menemukan kenyamanan di sana, kemudian berpindah setengah tahun saya bekerja di sebuah restoran di Ubud Bali bernama Mozaic sebelum kembali ke Solo. Hingga akhirnya bersama dua rekan saya mengakuisisi restoran bernama Delisiozo (yang sekarang bernama Saffron) di awal tahun 2013. Rasa-rasanya di tahun 2013 itu adalah waktu yang tepat untuk saya kembali ke Solo dan mulai mengembangkan usaha di tempat ini sampai sekarang.

Apa perbedaan utama tinggal di Indonesia dan tinggal di Luar Negeri? pengalaman yang paling berkesan? Perbedaan utama terasa sekali di kualitas sumber daya manusia, kita masih tertinggal satu langkah di beberapa negara yang pernah saya tinggali. Cara kerja yang efisien, sistematis dan beberapa tehnik dalama memasak sungguh banyak saya dapatkan dari mereka. Setelah lulus dalam benak saya bukan sekedar mengejar materi namun mencari pengalaman dan wawasan sebanyak mungkin. Dibilang berat juga iya, terlebih hidup di negeri orang kita tetaplah orang kelas kedua, yang masih dianggap sebelah mata. 11 tahun tinggal di luar negeri tentu bukan waktu yang singkat. Pengalaman paling berkesan yakni kendala yang utama yakni bahasa, dengan kemampuan bahasa yang limited sewaktu saya bekerja di Geneva dan Macau yang kebanyakan tidak fasih dalam bahasa Inggris, karena memang keinginan untuk maju begitu besar saya terus bekerja dengan semaksimal dan belajar bahasa tersebut secara otodidak. Alhasil banyak karakter dan kemampuan saya yang lahir di situ Telah tinggal di beberapa negara selama beberapa waktu. Apakah itu mempengaruhi proses kreatif dalam pekerjaan? Tentu sangat berpengaruh. Andaikan membangun sebuah rumah, pengalaman saya tersebut menjadi fondasi dan kerangka bagi saya dalam membangun sebuah restoran, cara memanajemen yang baik dan berkreativitas dalam membuat menu. Keinginan yang besar untuk mengembangkan usaha di kota sendiri mendorong saya kembali ke Solo. Memberikan peluang usaha bagi banyak orang, dan terus berbagi ilmu. Dan proses kreatifnya di sini adalah bagaimana membuat meu-menu ala luar tapi pas di lidah orang Solo.

 

Apa inspirasi utama dalam menciptakan sebuah masakan?  Inspirasi utama saya dalam memasak adalah bagaimana beberapa jenis saus, daging dan karbo yang terletak dalam satu piring, bisa saling mengkomplimen rasa satu dengan rasa yang lain .Salah satunya dengan memadupadankan bahan-bahan yang ada di Indonesia, mulai dari segi harga, cita rasa yang khas lokal, dan manfaat yang terkandung di setiap bahan. Dan sebuah resep tidak memiliki sebuah soul, adalah tugas dari para chef untuk menambahkan soul tersebut ke dalam masakan.  Bagaimana menyeimbangkan kreativitas dengan bisnis atau pekerjaan? Kreativitas, bisnis atau pekerjaan tentunya semua saling berkaitan dan bersinergi satu sama lain. Sama halnya dengan kreativitas dalam menciptakan menu masakan yang baru. Setiap tiga minggu sekali selalu ada menu baru karena saya berpikir harus ada yang beda dan ditonjolkan. Karena inovasi itu sangatlah penting, bisnis yang tidak berinovasi dengan baik, mereka tidak akan sustainable, karena perubahan jaman yang begitu cepat. Intinya kita tetap berkreativitas dalam pakem yang tersedia, alias tidak keluar dari konsep yang ada. Lalu, melalui profesi ini bagaimana Anda memandang bahwa lebih banyak laki-laki yang berprofesi sebagai Chef dibanding perempuan? Nah, selalu ada pertanyaan seperti ini ke saya. Dilihat dari histori koki “kitchen brigade” yang berasal dari Perancis, memang profesi ini hampir semua dilakukan oleh laki-laki, karena banyak waktu dan fisik yang kuat untuk bekerja di dapur pada jaman dahulu. Meskipun ada juga anggapan lain seperti perempuan terkadang moody, mood-nya gampang terpengaruh karena faktor biologis seperti datang bulan dan ini sangat berpengaruh terhadap kekonsistenan rasa makanan yang dimasak.  Seiring berjalannya waktu, anggapan ini sudah tidak lagi benar, saya menemui banyaksekali koki perempuan yang hebat, saya pernah beberapa kali bekerja bersama koki perempuan dan mereka sangat luar biasa dalam bekerja. Adakah pesan yang bisa Anda bagikan bagi setiap orang yang juga berkeinginan menjadi chef? 

Ketika merasa memiliki passion memasak untuk menjadi chef kita bisa terus mengembangkannya. Terlebih kemudahan informasi yang bisa didapatkan membuat kita bisa belajar dari mana saja, salah satunya dengan akses internet.

Bangun fondasimu tentang bumbu bumbu dasar dan tehniknya dan carilah pengalaman sebanyak mungkin. Karena memasak juga perlu memakai feeling dari hati, tidak hanya dilihat dari cara memasukkan bumbu-bumbu, Dan feeling dari hati ini bakal ada kalau tangan kita dilatih memasak sesering mungkin. Intinya jangan cepat puas dengan pencapaian. Bagi yang tidak sekolah di sekolah perhotelan tidak usah khawatir, apabila terdapat lowongan pekerjaan di sebuah resto entah menjadi koki, pelayan, kasir, tukang cuci sekalipun, ambilah. Di sana kita dapat bekerja sambil mengamati dapur pelan-pelan dan di saat momen yang pas, kamu bisa meminta ke HRD atau bahkan ke owner untuk ditransfer ke dapur. Karena bagi saya pengalaman adalah nomor satu yang tidak ternilai dari uang.

 

Teks : Vincensia Enggar

Foto : Dok. Pribadi

Tulis Komentar

Your email address will not be published.